Setelah dua tahun penantian panjangku, akhirnya tinggal seminggu lagi aku akan menghadapi Ujian Akhir Nasional yang akan menentukan nasibku. Seminggu yang lalu, Nenekku dari ayah datang ke rumah. Ternyata beliau berencana akan tinggal di rumahku untuk sementara. Pagi-pagi beliau telah sampai di rumahku dengan membawa dua tas besar yang beliau bawa dari rumah. Langsung saja aku membantu beliau membawakan tas-tas tersebut.
Sesampainya di dalam rumah, aku langsung meninggalkan beliau di ruang tamu dan langsung menuju ke lantai atas. Sampai di atas, aku mengatur nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan niatku membereskan kamar yang akan dipakai Nenek. Mama terheran-heran melihatku membereskan kamarku sendiri dengan tergesa-gesa. Langsung saja Mama menanyakan hal itu padaku, “Kamu ngapain?”. “Ada Nenek di bawah. Mama sama Nenek, biar aku yang beresin kamar,” jawabku sambil menata bantal yang berserakan.
Kusapu kamarku sampai terlihat lebih bersih. Setelah terlihat rapi oleh mataku, aku langsung ke bawah mengambil barang bawaan Nenek dan menaruhnya ke kamar. Melelahkan memang, tapi itu salah satu caraku menghormati Nenek. Alhamdulillahnya, aku ikhlas dan dengan senang hati mengerjakan hal itu.
Kedua tas itu hanya kuletakkan di bawah tempat tidur dan aku langsung berlari lagi menuju ke bawah untuk membuatkan Nenek minuman. Setelah minumna itu berada di hadapan Nenek, aku langsung kembali lagi menuju atas untuk beristirahat. Aku rebahkan diri di tempat tidur dan langsung menonton TV untuk menghilangkan lelah. Tak sampai lima menit kemudian, aku sudah tertidur.
# # #
Malam ini aku lalui seperti malam-malam kemarin. Belajar, belajar, dan hanya belajar yang aku lakukan. Seminggu lagi. Ya, seminggu lagi. Nasibku akan dientukan oleh hasil ujianku yang aku sendiri tak tahu berapa hasilnya. Semua orang pasti berharap yang terbaik, tapi hanya Allah SWT. yang tahu.
Lima bulan terakhir, aku bersama kedua sahabatku melaksanakan puasa Senin-Kamis untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan agar do’a kami berupa lulus dengan nilai yang maksimal serta mendapatkan sekolah yang kami inginkan bisa tercapai. Pada awalnya, seorang temanku, Ifa mengajak sahabatku sekaligus sahabatnya, Anto untuk berpuasa. Sebenarnya Ifa berpuasa karena ingin membayar hutang puasanya pada bulan Ramadhan. Tapi Anto bersedia menemaninya. Hari itu, Ifa memberitahuku tentang hal itu. Mereka menawariku untuk bergabung. Tentu saja aku ingin bergabung dengan mereka. Mereka memberitahuku bahwa hari Kamis mereka akan berpuasa. Dan aku juga akan berpuasa pada hari itu.
Sejak saat itu, kami bertiga rutin berpuasa Senin-Kamis. Sampai-sampai dua orang temanku, Moko dan Rahman juga berminat berpuasa seperti kami. Rasa senang langsung menyelimutiku saat aku tahu kedua temanku juga akan berpuasa bersama kami. Awalnya, kami berfikir itu hal yang cukup sulit untuk dilakukan anak remaja seusia kami. Tapi setelah mencobanya, aku pribadi merasa lebih dekat dengan Allah SWT. karena sebelumnya belum pernah terlintas di benakku untuk berpuasa selain bulan Ramadhan. Tapi nyatanya aku merasa bersyukur, senang dan perasaan lainnya yang bercampur menjadi satu karena aku bisa melakukan hal itu. Subbhanallah, Maha Suci Allah.
Tak terkecuali malam ini. Sebelum tidur aku berpesan pada Papa untuk membangunkanku sahur jam tiga. Selain sahur, aku juga melaksanakan sholat tahajud agar ibadahku semakin lengkap. Berhubung Nenek menginap di sini, aku harus berbagi tempat tidur dengan beliau. Karena tempat tidurku hanya dapat ditempati oleh satu orang, maka aku harus mengalah tidur di bawah beralaskan busa tipis.
Tepat pukul tiga pagi, Papa membangunkanku. Aku masih memejamkan mata walau aku sudah dalam posisi duduk. Papa juga dalam keadaan yang sama. Hanya yang membedakan, Papa dalam keadaan berdiri sambil membangunkanku. Tak lama kemudian, aku sudah berjalan seperti zombie menuruni anak tangga.
Setelah sampai di anak tangga terakhir, aku langsung menuju ke wastafel untuk mencuci muka. Tiba-tiba, aku sendiri bingung sedang apa. Tapi setelah aku sadar, aku baru teringat kalau aku ke bawah untuk makan sahur. Saat aku buka penutup nasinya, ternyata tak ada nasi di situ. Tak ada pilihan lain selain makan mie goreng.
Aku langsung mengisi panci kecil dengan air dan merebusnya. Sambil menunggu air mendidih, aku mengambil dua bungkus mie goreng kesukaanku dan membukanya. Kucampur kecap, saos, minyak dan bumbu mie menjadi satu. Saat air mendidih, dua bungkus mie tadi aku masukkan. Lima menit kemudian, mie tadi telah masak dan aku tirisan. Lalu, aku tuang mie ke piring dan mencampurnya dengan bumbu tadi. Tak lupa, aku taburkan bawang goreng ke atasnya. Aku makan mie goreng itu ditemani segelas air putih untuk menetralkannya.
Lima belas menit kemudian, mie di piringku tadi telah menghilang dan berpindah ke perutku. Alhamdulillah, makan sahur telah selesai. Aku beristirahat terlebih dahulu dan melanjutkannya dengan sholat tahajud. Selesai berwudhu, aku melihat Nenekku bangun dan aku tak tahu apa yang akan beliau lakukan setelah ini. “Kamu sedang apa?” tanya Nenek. “Aku baru selesai makan sahur dan aku akan melaksanakan sholat tahajud setelah ini,” jawabku. Nenek hanya tersenyum dan meninggalkanku menuju kamar mandi.
# # #
Sepulang sekolah, aku disambut Nenek di depan rumah. Aku langsung mencium tangannya dan mengajaknya masuk. Beliau langsung menuju ke atas saat aku sedang beristirahat di kursi tamu. Mama langsung menghampiriku dan bertanya tentang sekolahku. Aku menjawab pertanyaan sambil berkipas-kipas menghilangkan keringat yang membasahi seragam Osisku.
Aku tak terlalu mendengarkan perkataan beliau. Tapi ada satu pernyataan yang membuatku ingin mendengar ulang pernyataan tersebut. “Kak, kamu tahu kalau Nenek bangga sama kamu?” Tanya Mama. Aku hanya bisa menggelengkan kepala karena aku tidak tahu-menahu akan hal itu. “Tadi Nenek bilang sama Mama, semalam dia lihat kamu sholat tahajud sama sahur, Nenek sampai nangis terharu. Dia senang lihat kamu bisa dan mau melakukan hal itu.”
Mendengar hal itu, secara tidak langsung aku merasa bangga dan terharu mengetahui hal itu. Mungkin itu cuma hal kecil. Tapi bagiku itu sebuah dorongan semangat untuk ke depan yang lebih baik. Dalam artian, aku senang saat orang lain juga bangga atas hal yang aku lakukan dan itu membuat aku menjadi lebih semangat lagi melakukan hal tersebut. Sebenarnya, aku tidak percaya mendengar hal itu. Namun, aku yakin kalau Mama tidak bohong sama aku.
Buktinya hari ini. Saat aku naik ke atas, Nenek memberiku sesuatu. Saat aku lihat, itu sebuah amplop dan aku yakin kalau itu berisi uang. Belum sempat aku buka, Nenek berpesan “Gunakan uang ini, untuk keperluan sekolah kamu.” Aku mengucapkan terima kasih dan langsung menuju ke kamar. Di sana aku membuka amplop tersebut. Ada empat lembar uang Rp 50.000 yang artinya berjumlah Rp 200.000.
Aku kaget melihat uang sebanyak itu. Subbhanallah wal Hamdulillah. Aku sangat berterimakasih sekali bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Bukan hanya aku yang diberi, tapi adikku, Rafi juga mendapatkannya. Namun, saat aku tanya berapa jumlahnya, dia menjawab kalau dia mendapatkan uang Rp 50.000 sebanyak satu lembar. Aku tak berani memberitahunya kalau aku mendapatkan uang lebih dari dia. Aku takut dia marah pada Nenek.
# # #
Belum tepat satu Minggu, Nenek meminta Mama mengantarnya pulang. Pagi itu, Papa baru saja pulang kerja. Jadi tidak mungkin Papa mengantar beliau pulang. Sebelumnya, Nenek sudah menyiapkan barang-barang bawaannya untuk dibawa pulang. Mama langsung bersiap-siap dan memanggil becak untuk mengantar Nenek dan Mama pulang ke rumah Nenek.
Di rumah, aku bersiap-siap berangkat sekolah. Lalu aku berpamitan dengan Papa. Aku ke sekolah menaiki sepeda. Lima belas menit kemudian, au telah berada di parkiran sekolah. Hari ini, hari terakhirku masuk sekolah sebelum ujian. Senin besok aku harus sudah siap mental untuk menghadapi ujian yang akan menentukan nasibku selama tiga tahun di SMP.
Kegiatan hari ini cukup menguras air mataku. Wali kelasku, Bu Diana mengajakku dan teman-teman untuk merenungkan semua hal yang telah kami lalui bersama selama tiga tahun ini. Beliau mengutarakan bahwa sebaiknya kita harus saling memaafkan sebelum kita menghadapi ujian agar beban kita berkurang. Beliau juga menambahkan banyak nasihat-nasihat yang membuatku langsung menangis terharu mendengarnya.
Setelah kami merenungkan semua hal itu, aku langsung bangkit dan memeluk sahabatku untuk meminta maaf. Kami berdua menangis tersedu. Tak lama aku melepaskan pelukan tersebut dan memandang berkeliling. Ternyata, pemandangan di sekitarku sama dengan diriku tadi. Banyak sebagian temanku berpelukan dengan teman duduknya masing-masing. Hanya sebagian teman laki-lakiku yang berpelukan dengan teman sebangku mereka. Dilanjutkan dengan meminta maaf kepada guru kami serta teman-teman dari kelas lain.
# # #
Malam senin pun telah tiba. Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak tadi sore. Mulai dari buku catatan kelas VII sampai buku LKS kelas IX. Sejak siang, Mama sudah pergi menemani Nenek di rumah sakit. Beliau terkena komplikasi dalam dan masuk ke rumah sakit tadi siang. Hari ini aku memusatkan semua pikiranku untuk belajar Bahasa Indonesia karena besok mata pelajaran tersebut yang akan diujikan. Baru sekitar pukul 11 malam, aku bisa bernafas lega karena aku telah membaca dan memahami pelajaran tersebut.
Paginya, aku siap menghadapi ujian yang menantiku. Sesampainya di sekolah, aku kembali membaca catatan-catatanku. Saat bel masuk berbunyi, aku sudah berada di dalam ruang ujian dan siap mengerjakan soal. Tak lupa, aku berdo’a kepada Allah SWT. agar ujianku lancar serta kubaca surat Al-Fatihah tujuh kali diiringi do’a belajar dan basmallah. Setiap kali aku mengalami kesulitan, aku berdo’a lagi. Baru setelah itu aku menjawab pertanyaan itu.
Sepulang sekolah, aku tidur siang dan dilanjutkan mempersiapkan bahan belajar untuk esok. Seperti kemarin, Mama sekarang juga berada di rumah sakit menemani Nenek. Sebelum belajar, aku menyempatkan diri untuk menyapu dan menyiram tanaman. Kali ini, sejak sore aku mulai belajar karena matematika yang akan diujikan besok. Aku mulai dengan mengerjakan soal-soal latihan dan dilanjutkan dengan mencocokan jawabannya dengan kunci jawaban. Hasilnya lumayan memuaskan.
Setalah sholat maghrib, aku mendapatkan berita yang sangat mengejutkan dari Papa. Nenek meninggal dunia. Saat itu juga, aku langsung lemas. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak percaya akan hal ini. Tapi ini yang terjadi. Nenek meninggal saat aku butuh semangat dari semua keluargaku. Apalagi Nenekku. Orang yang menjadi inspirasiku.
Di dalam hati aku menangis. Tapi mataku tak berani menitikkan air mata kesedihan itu. Aku tak mau dianggap lemah dihadapan Papaku. Beliau pasti tahu apa yang aku rasakan saat ini. Tapi aku mencoba untuk tegar dan pasrah. Saat itu juga, Papa langsung mengajakku ke rumah Nenek. Tapi mungkin memang ini hari burukku. Motor Papa susah untuk dinyalakan. Tapi Allah memberiku jalan. Adik Mamaku datang ke rumah dan langsung mengajakku ke rumah Nenek. Tak lupa aku membawa buku pelajaran untuk besok dan berniat untuk belajar di sana.
Dengan suasana hati yang gundah, aku tetap mencoba untuk belajar. Tapi tak ada satupun yang masuk di kepalaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini sudah takdir Allah SWT. dan aku harus menerima itu. Di sana aku hanya melamun sendiri walau aku berada di tengah-tengah keluargaku yang sedang berduka.
Semua keluargaku merasa khawatir padaku dan juga dua saudaraku yang akan ujian esok hari. Beruntungnya, aku sudah belajar tadi siang. Aku menangis juga akhirnya. Sebenarnya hanya berupa isakan kecil. Namun itu telah mengurangi bebanku saat ini.
Esoknya, aku mencoba menjadi diriku seperti yang biasa. Aku berangkat sekolah seperti biasa dan aku masih bisa tersenyum walau itu senyum tipis. Saat ujian berlangsung, aku terus berdo’a sambil mencoba fokus ke soal-soal yang ada dihadapanku. Waktu pulang pun datang. Aku langsung mengayuh sepedaku menuju rumah Nenek.
Di sana, aku terlambat mengikuti acara pemakaman Nenek. Ada sebersit rasa kecewa di sana. Tapi, aku sudah mencoba ikhlas akan hal itu. “Di sini, aku akan selalu mendo’akanmu, Nenek”, kataku dalam hati. Aku ikhlas, Ya Allah.
# # #
Empat hari sudah ujian aku lalui. Mulai hari ini, aku bebas. Bebas dari segala hal yang bersangkutan dengan sekolah. Inilah rasanya menjadi bebas. Tapi hanya satu yang belum terselesaikan. Kami semua masih menunggu pengumuman kelulusan kami. Nilai bagiku tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah aku lulus.
Hari ini datang juga. Hari dimana semua nasib kami akan berubah. Tepat pukul 2, kami sudah berkumpul di lapangan sekolah. Lapangan tersebut telah berubah menjadi tempat pertemuan yang indah. Kami penasaran sekali dengan hasil tersebut. Pukul 4 sore, Pak Kepala Sekolah menaiki podium untuk menyampaikan pengumuman tersebut. Kami semua dinyatakan lulus.
Tibalah saatnya pengumuman kedua. Ini pengumuman tentang anak-anak yang mendapatkan nilai 10 dalam tiap mata pelajarannya. Satu per satu temanku dipanggil. Saat nama keempat disebutkan, aku langsung terpaku dan tidak dapat berkata apa-apa. Aku termasuk anak yang mendapatkan nilai 10 dalam mata pelajaran matematika. Itu sebuah prestasi tertinggi yang pernah aku raih.
Aku langsung teringat malam itu. Malam dimana aku tidak bisa memusatkan pikiranku karena musibah tersebut. Aku tak tahu rencana ini. Tapi aku senang menerima hal itu. “Apa mungkin ini do’a dari engkau, nek?” batinku.
#Ini cuma cara saya buat mengungkapkan isi hati.
#Terima Kasih buat yang mau membacanya.