Mei 01, 2013

Makalah Bahasa Indonesia


KEUNIKAN GAYA PACARAN REMAJA JEPANG DIBANDING
GAYA PACARAN REMAJA INDONESIA





Makalah ini disusun sebagai pengganti nilai Mid semester II Bahasa Indonesia



Oleh
Shafrina Ully Zulkarnain
NIS 119864
                                      






SEKOLAH MENENGAH NEGERI ATAS 1 BATANG
TAHUN PELAJARAN 2012-2013


PRAKATA

Peneliti senantiasa mengucapkan rasa syukur atas  berkat rahmat Allah Swt. yang telah mempermudah peneliti dalam menyelesaikan makalah ini. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa berkat kemurahan hati banyak pihak memungkinkan makalah ini bisa terwujud. Oleh karena itu, perkenankan peneliti mengucapkan terima kasih dengan iringan doa semoga kemurahan hati itu mendapat balasan yang lebih baik dari Allah Swt.
Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada Adi Prasetyo, S. Pd. M.Pd yang telah membimbing, membantu, dan mengarahkan hingga makalah ini terwujud.
Seluruh keluarga yang tidak pernah lelah memberikan motivasi dan doa sehingga makalah ini dapat selesai. Peneliti  mengucapkan terima kasih.
Teman-teman senasib dan seperjuangan di SMA Negeri 1 Batang, Gilang, Alip, Shelma, Shahnaz yang selalu mendukung dan bekerja sama dalam suka duka mewarnai hari-hari belajar di sekolah. Widhi Prasetia Nugraha orang  yang tidak kenal lelah berdoa untukku.
Akhir kata, peneliti berharap semoga makalah ini bermanfaat kepada siapa saja yang membacanya.
Batang, April 2013

 Peneliti



KEUNIKAN GAYA PACARAN REMAJA JEPANG DIBANDING
GAYA PACARAN REMAJA INDONESIA

Shafrina Ully Zulkarnain


SARI


Gaya pacaran di berbagai negara itu berbeda-beda. Di Jepang misalnya, memiliki keunikan yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Sebenarnya gaya pacaran itu sesuai individu masing-masing. Kita dapat menerapkan gaya pacaran darimana saja, asal pasangan kita juga mau. Tanpa ada pemaksaan diantara pasangan kekasih.

Kata kunci: pacaran, remaja jepang, indonesia, unik



PENDAHULUAN
            Pacaran adalah sebuah kata yang sering diartikan sebagai perilaku anak – anak remaja dalam menjalin sebuah hubungan yang dilandasi dengan perasaan suka satu sama lain. Menurut Wikipedia.com, pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai pacar. Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.
Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Pembedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Berdasarkan tradisi zaman kini, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta-kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Di Jepang, gaya pacaran para remajanya memiliki keunikan tersendiri daripada gaya pacaran remaja pada umumnya di Indonesia. Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai sisi positif. Ada juga yang harus kita buang karena itu kurang sesuai. Semua itu tergantung individu masing-masing. Ini hanya gaya pacaran dari dua negara yang berbeda.
Pada saat momen penembakan (dalam bahasa jepang Kokuhaku) di Jepang, seorang pemuda biasanya akan mengajak teman perempuannya berjalan-jalan bersama teman-temannya. Dia akan mengungkapkan perasaannya terhadap perempuan tersebut setelah pulang dari jalan-jalan. Dia hanya akan mengatakan suka bukan cinta.
Di Indonesia, terdapat bermacam-macam cara dalam mengungkapkan perasaan. Cara paling mudahnya yaitu hanya melalui SMS. Biasanya itu dilakukan oleh pemuda yang tinggalnya berjauhan dari orang yang disukainya. Bisa saja mereka beda kota, provinsi, pulau, maupun negara. Pemuda tersebut akan mengirimkan SMS menggunakan kata-kata yang romantis. Sehingga si perempuan akan merasa terbang saat membacanya.
Ada juga yang mengungkapkannya melalui telepon. Si pemuda akan menelpon perempuan itu. Ia mengatakan kata-kata cinta yang akan membuat si perempuan terbang melayang. Hal ini lebih baik dilakukan daripada hanya lewat SMS saja. Karena telepon lebih mengeluarkan biaya.
Selain itu, pemuda yang gentleman akan mengungkapkan perasaannya langsung di hadapan si perempuan yang ia cintai. Pemuda yang melakukan hal tersebut, hanya butuh kata-kata yang simpel namun mengena. Tanpa perlu kata-kata yang panjang lebar. Akan lebih gentle lagi apabila ia melakukannya di depan banyak orang.
Ada hal unik lain ketika penembakan di Jepang. Di sini si gadis juga tidak akan segan-segan untuk menyatakan perasaannya. Hal ini sudah sangat wajar di sana. Jadi, kita sebagai gadis tidak selamanya harus menunggu. Kita juga dapat menembak si pemuda terlebih dahulu.
Anehnya, hal ini tidak berlaku di Indonesia. Si gadis tidak memiliki kemampuan untuk mengutarakan perasaannya terlebih dahulu. Dia hanya bisa menunggu. Ada beberapa alasan yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama karena dia merasa gengsi. Kedua, masih sangat jarang ditemukan jika ada gadis yang mengutarakan perasaannya terlebih dahulu.
Di Jepang pasangan pemuda-pemudi tidak pernah menggunakan kata aishiteru (cinta). Mereka hanya menggunakan kata daisuki (suka) kepada pasangannya. Kata aishiteru hanya digunakan oleh pasangan yang sudah memutuskan akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Jadi, remaja di sana hanya menggunakan kata daisuki terhadap pasangan mereka.
Penggunaan kata cinta sangat marak di Indonesia. Para pemuda biasanya merayu pacar mereka dengan kata “aku sangat mencintaimu”. Ada juga yang mengatakan “maukah engkau menjadi bidadari manisku yang selalu menemani dan mengisi hatiku?”. Lalu, ketika cintanya diterima, status hubungan pada jejaring sosialnya akan langsung berubah menjadi berpacaran.
Ketika baru saja menjadi pasangan, pemuda Jepang akan mengajak pacarnya untuk kencan pertama di sebuah restaurant mewah. Kalau kencan-kencan selanjutnya bisa dimana saja. Sedangkan di Indonesia, tergantung orangnya. Ada yang mungkin sama dengan di Jepang, ada juga yang hanya biasa-biasa saja. Tidak jarang yang merayakannya bersama teman-teman. Kebanyakan perempuan yang baik akan menerima hal itu.
Saat akan keluar bersama, si pemuda tidak akan menjemput pacarnya seperti di Indonesia. Mereka akan bertemu di stasiun kereta. Karena kebanyakan masyarakat di sana menggunakan kereta sebagai alat transportasi. Saat pulang pun, si pemuda hanya akan mengantar sampai di stasiun. Setelah itu meraka akan berpisah di sana. Si pemuda baru akan mengirim pesan setelah ia sampai di rumah.
Beda dengan di Indonesia. Di sini para pemuda akan menjemput pacarnya di rumah. Selain itu ada juga yang main sembunyi-sembunyi saat akan berkencan (backstreet). Mungkin mereka pacaran namun tidak direstui. Tidak jarang mereka menerapkan budaya remaja Jepang.
Urusan makan berdua, beda lagi. Kalau di Indonesia, si pemuda akan membayarkan makanan  pacarnya. Bisa dibilang, setiap kali mereka makan, wajib hukumnya untuk pemuda membayar makanan tersebut. Tak jarang si pemuda juga harus membayarkan apa saja yang pacarnya beli.
Asyiknya di Jepang, mereka mengenal istilah betsu betsu (bayar sendiri-sendiri). Mereka membayar sendiri-sendiri makanan yang mereka beli. Dalam artian, ketika mereka makan berdua, si pemuda tidak akan membayarkan makanan yang dibeli pacarnya. Kebiasaan itu bisa saja tidak sepenuhnya berlaku. Kita boleh saja membayarkan makanan yang dibeli pacar kita, namun suatu hari mereka akan bergiliran membayarkannya. Bisa dikatakan pacaran seperti ini sangat hemat.
Selain hal tadi, di Jepang mereka tidak akan mengenalkan pasangan ke orang tua. Hal itu hanya dilakukan jika mereka sudah benar-benar serius. Biasanya, pasangan yang sudah memutuskan akan menikah, baru akan mengenalkan pasangan kepada orang tua masing-masing. Semua itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak dahulu.
Sedangkan di Indonesia, si pemuda akan mendatangi rumah pacarnya. Di sana ia akan berbincang-bincang dengan orang tua si pacar. Hal itu dilakukan untuk mengakrabkan diri dengan orang tuanya. Cara itu juga untuk mencari simpati dari kedua orang tuanya agar mendapat restu. Itu semua dilakukan oleh pemuda yang bisa dibilang serius dengan hubungan mereka.
Di Jepang, para pemuda lebih sering menyatakan perasaannya dengan sebuah tindakan. Bukan kata-kata bualan saja. Hal itu mereka lakukan karena perbuatan lebih terlihat nyata daripada hanya kata-kata. Akan tetapi hal itu tidak berlaku di Indonesia. Sedikit sekali pemuda yang mengekspresikan cintanya melalui sebuah tindakan. Mereka lebih sering membual dengan kata-kata.
Remaja Jepang memiliki etika ketika berpacaran. Mereka akan menganggap remeh orang yang saat berpacaran namun masih menjaga virginity-nya. Jadi, mereka memiliki ketentuan ketika berpacaran mereka harus melakukan seks bebas dengan kekasihnya. Pergaulan remaja di Jepang dapat dikategorikan sebagai pergaulan yang sangat bebas, namun mereka masih menganut tradisi kuno Jepang yang dikenal cukup disiplin.
Sedangkan di Indonesia, masih beragam sekali etika ketika berpacaran. Banyak remaja yang masih memiliki sopan santun. Minimal mereka berpacaran secara sehat. Artinya tidak melakukan seks bebas. Namun tak jarang yang sudah  melenceng dari budaya timur.
            Di Jepang, para murid Sekolah Menengah Atas banyak dibatasi oleh peraturan orang tua dan sekolah mereka jika menyangkut soal pacaran. Ini wajar, tapi sebuah survei menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga dari siswi SMA sekarang diberi aturan ketat justru oleh pacar mereka sendiri. Sebuah organisasi nirlaba yang banyak menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, Women Net Kobe, mewawancarai 2,600 perempuan dan 1,800 laki-laki siswa Sekolah Menengah Atas selama dua tahun terakhir ini dan menemukan bahwa banyak sekali hubungan asmara remaja yang ternyata melibatkan kekerasan, pemaksaan dan berbagai macam aturan.
Dalam survei itu, 33% pelajar perempuan mengatakan bahwa pacar-pacar mereka memberlakukan banyak larangan kepada mereka. Pelarangan ini termasuk pacar yang meminta mereka tidak pergi jalan dengan teman-teman lainnya, membatasi waktu mereka untuk bisa pergi keluar rumah dan menghapus nomor teman-teman dari ponsel mereka. Survei tersebut juga menemukan bahwa 27% dari siswa perempuan ternyata mengalami kekerasan psikologis seperti pelecehan verbal (intimidasi, ancaman, gertakan dan lain-lain). Selain itu, 15% mengalami kekerasan fisik dari pacar mereka, seperti ditampar atau dipukul.
Jika dilihat dari pengalaman puluhan tahun dari orang-orang sebelum kita, kalau hubungan tidak sehat seperti ini terus dilangsungkan sampai ke pernikahan, bisa dipastikan sang wanita-lah yang paling menderita selama menjalani kehidupan rumah tangga. Untuk para remaja perempuan, ini yang harus kalian ingat, Juru bicara Women Net Kobe, Mihiro Yanagihara berkata "Jika orang tua kalian memberikan peraturan ketat dalam berpacaran, itu karena mereka mau yang terbaik untuk kalian. Tapi kalau pacar kalian yang memberikan peraturan ketat dalam berpacaran, itu artinya mereka mau yang terbaik hanya untuk mereka sendiri."

PENUTUP
SIMPULAN
Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Pembedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Berdasarkan tradisi zaman kini, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta-kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan.
Melihat perbedaan diatas, kita dapat mengambil contoh gaya berpacaran yang sesuai dengan kita. Gaya berpacaran yang berasal dari dua negara yang berbeda. Itu bisa kita sesuaikan dengan keadaan kita masing-masing.

SARAN
Pilihlah yang sesuai dengan kita, tanpa harus memikirkan darimana asal gaya berpacaran tersebut. Asal gaya pacaran tersebut dapat diterima pasangan kita. Misal saja kita nyaman dengan gaya pacaran betsu betsu (bayar sendiri-sendiri). Kita harus menyesuaikan hal itu dengan pasangan kita. Lebih baik lagi jika kita tidak memaksakan gaya pacaran tersebut terhadap pasangan kita.
 
DAFTAR PUSTAKA

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar