KEUNIKAN GAYA PACARAN REMAJA JEPANG DIBANDING
GAYA PACARAN REMAJA INDONESIA
Makalah ini disusun sebagai pengganti nilai Mid
semester II Bahasa
Indonesia
Oleh
Shafrina Ully Zulkarnain
NIS 119864
SEKOLAH MENENGAH NEGERI ATAS 1 BATANG
TAHUN PELAJARAN 2012-2013
PRAKATA
Peneliti senantiasa
mengucapkan rasa syukur atas berkat
rahmat Allah Swt.
yang telah mempermudah peneliti dalam menyelesaikan makalah ini. Peneliti
menyadari sepenuhnya bahwa berkat kemurahan hati banyak pihak memungkinkan
makalah ini bisa terwujud. Oleh karena itu, perkenankan peneliti mengucapkan
terima kasih dengan iringan doa semoga kemurahan hati itu mendapat balasan yang
lebih baik dari Allah Swt.
Ucapan terima kasih
peneliti sampaikan kepada Adi Prasetyo, S. Pd. M.Pd yang telah membimbing,
membantu, dan mengarahkan hingga makalah ini terwujud.
Seluruh keluarga yang
tidak pernah lelah memberikan motivasi dan doa sehingga makalah ini dapat
selesai. Peneliti mengucapkan terima
kasih.
Teman-teman senasib dan
seperjuangan di SMA Negeri 1 Batang,
Gilang, Alip, Shelma, Shahnaz yang selalu mendukung
dan bekerja sama dalam suka duka mewarnai hari-hari belajar di sekolah. Widhi Prasetia Nugraha orang yang tidak kenal lelah berdoa untukku.
Akhir kata, peneliti
berharap semoga makalah ini bermanfaat kepada siapa saja yang membacanya.
Batang, April 2013
Peneliti
KEUNIKAN GAYA PACARAN REMAJA JEPANG DIBANDING
GAYA PACARAN REMAJA INDONESIA
Shafrina Ully Zulkarnain
SARI
Gaya pacaran di
berbagai negara itu berbeda-beda. Di Jepang misalnya, memiliki keunikan yang
sangat berbeda dengan di Indonesia. Sebenarnya gaya pacaran itu sesuai individu
masing-masing. Kita dapat menerapkan gaya pacaran darimana saja, asal pasangan
kita juga mau. Tanpa ada pemaksaan diantara pasangan kekasih.
Kata kunci: pacaran, remaja jepang, indonesia, unik
PENDAHULUAN
Pacaran
adalah sebuah kata yang sering diartikan sebagai perilaku anak – anak remaja
dalam menjalin sebuah hubungan yang dilandasi dengan perasaan suka satu sama
lain. Menurut Wikipedia.com, pacaran merupakan
proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya
berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal
dengan pernikahan. Pada
kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang
sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi
persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang
semestinya tidak mereka lakukan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807),
pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan
berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; (atau) berkasih-kasihan
(dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai
pacar. Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah
berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah
ditetapkan bersama.
Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya. Dimulai dari
proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan
afeksi yang ekslusif. Pembedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh
kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Berdasarkan tradisi zaman kini, sebuah
hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta-kasih yang
ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Di Jepang, gaya pacaran para remajanya
memiliki keunikan tersendiri daripada gaya pacaran remaja pada umumnya di
Indonesia. Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai sisi positif. Ada juga
yang harus kita buang karena itu kurang sesuai. Semua itu tergantung individu
masing-masing. Ini hanya gaya pacaran dari dua negara yang berbeda.
Pada saat momen penembakan (dalam bahasa
jepang Kokuhaku) di Jepang, seorang pemuda biasanya akan mengajak teman
perempuannya berjalan-jalan bersama teman-temannya. Dia akan mengungkapkan
perasaannya terhadap perempuan tersebut setelah pulang dari jalan-jalan. Dia
hanya akan mengatakan suka bukan cinta.
Di Indonesia, terdapat bermacam-macam cara
dalam mengungkapkan perasaan. Cara paling mudahnya yaitu hanya melalui SMS.
Biasanya itu dilakukan oleh pemuda yang tinggalnya berjauhan dari orang yang
disukainya. Bisa saja mereka beda kota, provinsi, pulau, maupun negara. Pemuda
tersebut akan mengirimkan SMS menggunakan kata-kata yang romantis. Sehingga si
perempuan akan merasa terbang saat membacanya.
Ada juga yang mengungkapkannya melalui
telepon. Si pemuda akan menelpon perempuan itu. Ia mengatakan kata-kata cinta
yang akan membuat si perempuan terbang melayang. Hal ini lebih baik dilakukan
daripada hanya lewat SMS saja. Karena telepon lebih mengeluarkan biaya.
Selain itu, pemuda yang gentleman akan
mengungkapkan perasaannya langsung di hadapan si perempuan yang ia cintai.
Pemuda yang melakukan hal tersebut, hanya butuh kata-kata yang simpel namun
mengena. Tanpa perlu kata-kata yang panjang lebar. Akan lebih gentle lagi apabila ia
melakukannya di depan banyak orang.
Ada hal unik lain ketika penembakan di Jepang.
Di sini si gadis juga tidak akan segan-segan untuk menyatakan perasaannya. Hal
ini sudah sangat wajar di sana. Jadi, kita sebagai gadis tidak selamanya harus
menunggu. Kita juga dapat menembak si pemuda terlebih dahulu.
Anehnya, hal ini tidak berlaku di Indonesia.
Si gadis tidak memiliki kemampuan untuk mengutarakan perasaannya terlebih
dahulu. Dia hanya bisa menunggu. Ada beberapa alasan yang menyebabkan hal itu
terjadi. Pertama karena dia merasa gengsi. Kedua, masih sangat jarang ditemukan
jika ada gadis yang mengutarakan perasaannya terlebih dahulu.
Di Jepang pasangan pemuda-pemudi tidak pernah
menggunakan kata aishiteru (cinta). Mereka hanya menggunakan kata daisuki
(suka) kepada pasangannya. Kata aishiteru hanya digunakan oleh
pasangan yang sudah memutuskan akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
Jadi, remaja di sana hanya menggunakan kata daisuki terhadap pasangan
mereka.
Penggunaan kata cinta sangat marak di
Indonesia. Para pemuda biasanya merayu pacar mereka dengan kata “aku sangat
mencintaimu”. Ada juga yang mengatakan “maukah engkau menjadi bidadari manisku yang selalu
menemani dan mengisi hatiku?”. Lalu, ketika cintanya diterima, status hubungan
pada jejaring sosialnya akan langsung berubah menjadi berpacaran.
Ketika baru saja menjadi pasangan, pemuda
Jepang akan mengajak pacarnya untuk kencan pertama di sebuah restaurant mewah.
Kalau kencan-kencan selanjutnya bisa dimana saja. Sedangkan di Indonesia,
tergantung orangnya. Ada yang mungkin sama dengan di Jepang, ada juga yang
hanya biasa-biasa saja. Tidak jarang yang merayakannya bersama teman-teman.
Kebanyakan perempuan yang baik akan menerima hal itu.
Saat akan keluar bersama, si pemuda tidak akan
menjemput pacarnya seperti di Indonesia. Mereka akan bertemu di stasiun kereta.
Karena kebanyakan masyarakat di sana menggunakan kereta sebagai alat
transportasi. Saat pulang pun, si pemuda hanya akan mengantar sampai di
stasiun. Setelah itu meraka akan berpisah di sana. Si pemuda baru akan mengirim
pesan setelah ia sampai di rumah.
Beda dengan di Indonesia. Di sini para pemuda
akan menjemput pacarnya di rumah. Selain itu ada juga yang main
sembunyi-sembunyi saat akan berkencan (backstreet). Mungkin mereka
pacaran namun tidak direstui. Tidak jarang mereka menerapkan budaya remaja
Jepang.
Urusan makan berdua, beda lagi. Kalau di
Indonesia, si pemuda akan membayarkan makanan
pacarnya. Bisa dibilang, setiap kali mereka makan, wajib hukumnya untuk
pemuda membayar makanan tersebut. Tak jarang si pemuda juga harus membayarkan
apa saja yang pacarnya beli.
Asyiknya di Jepang, mereka mengenal istilah
betsu betsu (bayar sendiri-sendiri). Mereka membayar sendiri-sendiri makanan
yang mereka beli. Dalam artian, ketika mereka makan berdua, si pemuda tidak
akan membayarkan makanan yang dibeli pacarnya. Kebiasaan itu bisa saja tidak
sepenuhnya berlaku. Kita boleh saja membayarkan makanan yang dibeli pacar kita,
namun suatu hari mereka akan bergiliran membayarkannya. Bisa dikatakan pacaran
seperti ini sangat hemat.
Selain hal tadi, di Jepang mereka tidak akan
mengenalkan pasangan ke orang tua. Hal itu hanya dilakukan jika mereka sudah
benar-benar serius. Biasanya, pasangan yang sudah memutuskan akan menikah, baru
akan mengenalkan pasangan kepada orang tua masing-masing. Semua itu sudah
menjadi kebiasaan mereka sejak dahulu.
Sedangkan di Indonesia, si pemuda akan
mendatangi rumah pacarnya. Di sana ia akan berbincang-bincang dengan orang tua
si pacar. Hal itu dilakukan untuk mengakrabkan diri dengan orang tuanya. Cara
itu juga untuk mencari simpati dari kedua orang tuanya agar mendapat restu. Itu
semua dilakukan oleh pemuda yang bisa dibilang serius dengan hubungan mereka.
Di Jepang, para pemuda lebih sering menyatakan
perasaannya dengan sebuah tindakan. Bukan kata-kata bualan saja. Hal itu mereka
lakukan karena perbuatan lebih terlihat nyata daripada hanya kata-kata. Akan
tetapi hal itu tidak berlaku di Indonesia. Sedikit sekali pemuda yang
mengekspresikan cintanya melalui sebuah tindakan. Mereka lebih sering membual
dengan kata-kata.
Remaja Jepang memiliki etika ketika berpacaran. Mereka akan menganggap
remeh orang yang saat berpacaran namun masih menjaga virginity-nya.
Jadi, mereka memiliki ketentuan ketika berpacaran mereka harus melakukan seks bebas dengan kekasihnya. Pergaulan
remaja di Jepang dapat dikategorikan sebagai pergaulan yang sangat bebas, namun
mereka masih menganut tradisi kuno Jepang yang dikenal cukup disiplin.
Sedangkan di Indonesia, masih beragam sekali
etika ketika berpacaran. Banyak remaja yang masih memiliki sopan santun. Minimal
mereka berpacaran secara sehat. Artinya tidak melakukan seks bebas. Namun tak
jarang yang sudah melenceng dari budaya
timur.
Di
Jepang, para murid Sekolah Menengah Atas banyak dibatasi oleh peraturan orang
tua dan sekolah mereka jika menyangkut soal pacaran. Ini wajar, tapi
sebuah survei menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga dari siswi SMA sekarang
diberi aturan ketat justru oleh pacar mereka sendiri. Sebuah organisasi nirlaba yang banyak menangani kasus
kekerasan dalam rumah tangga, Women Net Kobe, mewawancarai 2,600
perempuan dan 1,800 laki-laki siswa Sekolah Menengah Atas selama dua tahun
terakhir ini dan menemukan bahwa banyak sekali hubungan asmara remaja yang
ternyata melibatkan kekerasan, pemaksaan dan berbagai macam aturan.
Dalam survei itu, 33% pelajar perempuan
mengatakan bahwa pacar-pacar mereka memberlakukan banyak larangan kepada
mereka. Pelarangan ini
termasuk pacar yang meminta mereka tidak pergi jalan dengan teman-teman
lainnya, membatasi waktu mereka untuk bisa pergi keluar rumah dan menghapus
nomor teman-teman dari ponsel mereka. Survei
tersebut juga menemukan bahwa 27% dari siswa perempuan ternyata mengalami
kekerasan psikologis seperti pelecehan verbal (intimidasi, ancaman, gertakan
dan lain-lain). Selain itu, 15% mengalami kekerasan fisik dari pacar mereka, seperti
ditampar atau dipukul.
Jika dilihat dari pengalaman puluhan tahun
dari orang-orang sebelum kita, kalau hubungan tidak sehat seperti ini terus
dilangsungkan sampai ke pernikahan, bisa dipastikan sang wanita-lah yang paling
menderita selama menjalani kehidupan rumah tangga. Untuk para remaja perempuan,
ini yang harus kalian ingat, Juru bicara Women Net Kobe, Mihiro Yanagihara
berkata "Jika orang tua kalian memberikan peraturan ketat dalam
berpacaran, itu karena mereka mau yang terbaik untuk kalian. Tapi kalau pacar kalian yang memberikan peraturan ketat dalam
berpacaran, itu artinya mereka mau yang terbaik hanya untuk mereka
sendiri."
PENUTUP
SIMPULAN
Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya. Dimulai dari
proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan
afeksi yang ekslusif. Pembedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh
kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Berdasarkan tradisi zaman kini, sebuah
hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta-kasih yang
ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan.
Melihat
perbedaan diatas, kita dapat mengambil contoh gaya berpacaran yang sesuai
dengan kita. Gaya berpacaran yang berasal dari dua negara yang berbeda. Itu
bisa kita sesuaikan dengan keadaan kita masing-masing.
SARAN
Pilihlah yang
sesuai dengan kita, tanpa harus memikirkan darimana asal gaya berpacaran
tersebut. Asal gaya pacaran tersebut dapat diterima pasangan kita. Misal saja
kita nyaman dengan gaya pacaran betsu betsu (bayar sendiri-sendiri). Kita harus
menyesuaikan hal itu dengan pasangan kita. Lebih baik lagi jika kita tidak
memaksakan gaya pacaran tersebut terhadap pasangan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar